Ribuan Pelajar Bogor Deklarasi Generasi Antirokok

Ribuan Pelajar Bogor Deklarasi Generasi Antirokok

 

Ribuan Pelajar Bogor Deklarasi Generasi Antirokok

 

Wali Kota Bogor, Bima Arya, bersama jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor serta juara karate

tingkat nasional asal SMPN 1 Kota Bogor, Hazel RA, mematahkan rokok di hadapan sekitar 2.500 pelajar.

Namun rokok yang dipatahkan bukan rokok dalam arti sebenarnya, melainkan rokok raksasa berbahan styrofoam sebagai bagian dari acara deklarasi Smoke Free Generation, Smoke Free Runner dan Say No To Soft Drink dalam rangkaian kegiatan AP-CAT di Lapangan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Sabtu (21/9).

Bukan hanya simbolik pematahan rokok, dalam kegiatan tersebut turut dibentangkan giant spanduk Bogor Smoke Free Generation berukuran 5×20 meter oleh pelajar SMA/sederajat yang diawali lari pagi seputaran jalur Sistem Satu Arah (SSA) bersama 300 pelari dari komunitas lari di Kota Bogor.

Wali Kota Bogor, Bima Arya, menyebutkan, melalui kegiatan ini Pemkot Bogor ingin menunjukkan konsistensinya

dalam upaya menyelamatkan generasi penerus dan masyarakat Kota Bogor secara umum dari pola hidup tidak sehat. Salah satunya merokok.

”Kami melakukan langkah ini berdasarkan penelitian dan fakta-fakta. Banyak kejadian di Kota Bogor terkait penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian, di mana sebagian besar disebabkan jantung, diabetes dan kurang berolahraga. Jadi, kita mengajak warga Kota Bogor terus bergerak hidup sehat dan menjauhi asap rokok,” terangnya.

Ke depan, sambung dia, aturan Perda KTR yang ada akan lebih diperkuat, termasuk penegakan hukumnya

untuk menjadikan Kota Bogor ramah bagi pecinta olahraga dan tidak ramah bagi industri tembakau. Keterlibatan pelajar untuk mengedukasi, karena berdasarkan penelitian semakin mudah dalam mencoba mengisap rokok akan semakin berat bagi mereka menghentikan kebiasaan tersebut.

”Berdasarkan kajian, jika mudanya tidak merokok akan lebih mudah menyelamatkannya. Karena itu, kita tidak pernah berhenti terus mengedukasi pelajar SD, SMP dan SMA tentang bahaya merokok. Bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi masyarakat di sekelilingnya. Jika sejak SD, SMP atau SMA tidak merokok kemungkinan besar ke depannya juga tidak akan merokok,” tutur Bima.

Apresiasi juga disampaikan Bima terkait upaya pemerintah yang menetapkan kenaikan tarif cukai dengan rata-rata sekitar 23 persen dan menaikkan harga jual eceran atau harga banderol dengan rata-rata sekitar 35 persen mulai 1 Januari 2020.

Bima menambahkan, kebijakan tersebut menjadi sesuatu yang bagus, karena menjadi ikhtiar untuk memperkecil ruang bagi industri tembakau dan menyadarkan warga menggunakan uang akan lebih berharga jika dialokasikan membeli makanan sehat daripada membeli rokok.

 

Sumber :

https://www.surveymonkey.com/r/GHW5SHM